
Legal Officer & Retainer
SOP, kebijakan internal, dan kode etikSOPs, internal policies and codes of conduct
← Semua layanan ALLMAR Law & InvestmentAll ALLMAR Law & Investment services
Jawaban singkatShort answer
SOP, kebijakan internal, dan kode etik adalah layanan ALLMAR Law & Investment.SOPs, internal policies and codes of conduct is a service by ALLMAR Law & Investment.
Perusahaan yang tumbuh cepat sering menghadapi masalah yang sama: setiap divisi bekerja dengan caranya sendiri, keputusan bergantung pada orang tertentu, dan karyawan baru tidak tahu batas yang boleh dan tidak boleh. Dokumen tertulis berupa SOP, kebijakan internal, dan kode etik membantu menyeragamkan cara kerja sekaligus menjadi pegangan saat terjadi masalah. Artikel ini membahas cara membuat SOP perusahaan beserta kebijakan dan kode etik yang selaras dengan ketentuan hukum.
Perbedaan SOP, kebijakan, dan kode etik
- Kebijakan menyatakan prinsip dan aturan umum, misalnya kebijakan pengadaan atau kebijakan pelindungan data. Kebijakan menjawab pertanyaan apa dan mengapa.
- SOP menjabarkan langkah teknis untuk menjalankan kebijakan, misalnya urutan persetujuan pembelian. SOP menjawab pertanyaan bagaimana, siapa, dan kapan.
- Kode etik memuat nilai dan standar perilaku, misalnya larangan menerima hadiah, benturan kepentingan, dan perlakuan terhadap rekan kerja.
Ketiganya juga perlu dibedakan dari peraturan perusahaan, yaitu dokumen ketenagakerjaan yang memuat syarat kerja dan tata tertib. Perusahaan yang mempekerjakan sejumlah tertentu pekerja wajib memiliki peraturan perusahaan yang disahkan instansi ketenagakerjaan, kecuali sudah memiliki perjanjian kerja bersama.
Mengapa aspek hukum penting dalam dokumen internal
Dokumen internal tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Kebijakan cuti yang lebih rendah dari ketentuan minimum, misalnya, tidak dapat diberlakukan. Selain itu, sanksi disiplin hanya kuat bila aturannya tertulis, telah diberitahukan kepada karyawan, dan dijalankan secara konsisten. Dokumen yang rapi juga menjadi bukti bahwa perusahaan berupaya mencegah pelanggaran, misalnya dalam konteks antikorupsi atau pelindungan data pribadi.
Cara membuat SOP perusahaan: tahap penyusunan
- Pemetaan proses. Identifikasi proses inti dan proses berisiko, seperti pengadaan, keuangan, penjualan, rekrutmen, dan pengelolaan data.
- Wawancara pemilik proses. Catat cara kerja yang sebenarnya berjalan, bukan cara kerja ideal yang hanya ada di atas kertas.
- Pemeriksaan kesesuaian hukum. Cocokkan rancangan dengan ketentuan ketenagakerjaan, perpajakan, perizinan sektor, dan pelindungan data yang berlaku.
- Penyusunan draf. Tulis dengan bahasa sederhana, kalimat aktif, dan satu tindakan per langkah.
- Uji coba. Minta pengguna mencoba SOP pada kasus nyata, lalu perbaiki langkah yang membingungkan.
- Pengesahan. Tetapkan oleh pejabat yang berwenang, beri nomor dokumen, tanggal berlaku, dan nomor revisi.
- Sosialisasi. Sampaikan kepada karyawan, simpan bukti bahwa mereka sudah menerima dan memahami.
Struktur SOP yang mudah dipakai
- Tujuan dan ruang lingkup.
- Definisi istilah.
- Pihak yang bertanggung jawab.
- Langkah kerja berurutan, bila perlu dengan diagram alur.
- Formulir dan dokumen yang dipakai.
- Pengecualian dan cara menangani kasus khusus.
- Riwayat revisi.
Isi umum kode etik
- Benturan kepentingan dan kewajiban mengungkapkannya.
- Hadiah, jamuan, dan hubungan dengan pejabat publik.
- Kerahasiaan informasi perusahaan dan data pribadi.
- Perlakuan yang adil, larangan diskriminasi dan pelecehan.
- Penggunaan aset perusahaan dan media sosial.
- Cara melaporkan pelanggaran dan perlindungan bagi pelapor.
Kesalahan yang sering terjadi
- Menyalin dokumen perusahaan lain tanpa menyesuaikan dengan proses sendiri.
- Menulis SOP terlalu rinci sehingga cepat usang, atau terlalu umum sehingga tidak bisa dipakai.
- Tidak menetapkan pemilik dokumen yang bertanggung jawab memperbaruinya.
- Memberlakukan sanksi yang tidak tercantum dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja.
- Tidak meninjau ulang setelah ada perubahan regulasi atau struktur organisasi.
Perawatan dokumen
Tetapkan jadwal peninjauan, misalnya setiap tahun atau setiap ada perubahan aturan yang relevan. Simpan versi lama sebagai arsip, karena saat terjadi sengketa yang dipersoalkan adalah aturan yang berlaku pada waktu kejadian.
Siapa yang sebaiknya terlibat
Penyusunan dokumen internal idealnya melibatkan pemilik proses, bagian personalia, keuangan, dan fungsi legal. Pemilik proses memastikan langkahnya realistis, personalia memastikan keselarasan dengan peraturan perusahaan, dan fungsi legal memastikan kesesuaian dengan ketentuan hukum. Untuk kode etik, keterlibatan pimpinan puncak penting karena nilai yang ditulis hanya dipercaya bila dicontohkan dari atas.
Contoh: SOP persetujuan pembelian
Sebagai gambaran, SOP persetujuan pembelian dapat memuat langkah pengajuan permintaan oleh pengguna, perbandingan penawaran dari beberapa pemasok untuk nilai tertentu, pemeriksaan anggaran oleh bagian keuangan, persetujuan sesuai batas kewenangan, penerbitan pesanan pembelian, dan pemeriksaan barang saat diterima. Setiap langkah menyebut siapa pelakunya, formulir yang dipakai, dan batas waktunya.
Penutup
SOP, kebijakan internal, dan kode etik yang disusun dengan baik membuat perusahaan lebih tertib dan lebih siap menghadapi pemeriksaan maupun perselisihan. Sebelum memberlakukan sanksi atau mengambil langkah hukum berdasarkan dokumen internal, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan advokat. Informasi ini bersifat umum dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.
Policies only protect a company if they are lawful, known to staff and actually followed. Foreign-owned companies often import group policies written for another country, then find they conflict with Indonesian manpower law or are not enforceable against local employees. Internal policy drafting in Indonesia adapts SOPs, company regulations and codes of conduct to Indonesian law and to the way your business really runs.
Types of Internal Documents
- Company regulations (peraturan perusahaan): the formal document that sets working conditions and discipline. Employers with a certain minimum number of workers must have company regulations approved by the manpower authority, unless a collective labour agreement applies.
- Collective labour agreement (PKB): negotiated with a registered union where one exists.
- SOPs: operational procedures for tasks such as procurement, safety, cash handling or customer service.
- Policies: topic-specific rules on anti-bribery, data protection, conflicts of interest, IT use, gifts or social media.
- Code of conduct: a statement of expected behaviour, often linked to a disciplinary framework.
Why Local Adaptation Matters
Indonesian manpower law, as amended by Law No. 6 of 2023 on Job Creation and its implementing regulations, sets mandatory rules on working hours, overtime, leave, warning letters and termination. A group policy that allows dismissal for a single breach, for example, may not match the procedure required in Indonesia. Policies that contradict the law, the employment contract or the company regulations can be unenforceable.
Language matters too. Policies binding on Indonesian employees should be in Indonesian, with an English version for management if needed.
Internal Policy Drafting in Indonesia: Key Steps
- Inventory existing documents: gather group policies, employment contracts and any company regulations already approved.
- Gap analysis: compare them with Indonesian law and with actual practice on the ground.
- Prioritise: start with documents that carry legal obligations, such as company regulations, health and safety, and personal data handling.
- Draft in plain language: write for the people who must follow the rule, with clear responsibilities and examples.
- Consult and approve: involve worker representatives where required and obtain approval or registration with the manpower office for company regulations.
- Communicate and train: distribute, explain and record acknowledgement by employees.
- Review regularly: update when laws, structure or operations change. Company regulations are valid for a limited period and must be renewed.
Linking Policies to Discipline
A code of conduct is only effective if breaches have consequences that are lawful. Cross-reference the code with the disciplinary sections of the company regulations, specify the levels of sanction, and ensure the investigation process is fair and documented.
Common Mistakes
- Copying a group policy without checking Indonesian manpower rules.
- Letting company regulations expire without renewal.
- Policies in English only, with no proof that staff understood them.
- SOPs that describe an ideal process no one follows, which can be used against the company in a dispute.
- No owner assigned for each policy, so updates never happen.
Factors Affecting the Work
The number of documents, the size and spread of the workforce, the presence of a union, sector regulations and the need for bilingual versions determine the effort involved. Timelines also depend on internal consultation and approval by the manpower office.
Who Should Be Involved
Good policies are rarely written by lawyers alone. Human resources knows how discipline is applied in practice, operations managers know which SOP steps are realistic, and finance understands approval limits. Involving them early produces documents that people actually follow. Worker representatives should also be consulted where the law requires it, and their input often reveals practical problems before the rules take effect.
For a PT PMA, coordinate with the parent company's compliance team so local documents remain consistent with group standards while still meeting Indonesian requirements.
Final Thoughts
Well-drafted internal rules reduce disputes, support consistent discipline and show regulators that the company takes compliance seriously. They work best when written for Indonesian conditions rather than translated from elsewhere.
Before relying on any of these points, consult a licensed advocate who can assess your company's specific circumstances. This article is general information and is not legal advice for any particular matter.
Pertanyaan umumFAQ
Apa bedanya SOP dan kebijakan perusahaan?Do companies in Indonesia need company regulations?
Kebijakan menyatakan prinsip dan aturan umum, sedangkan SOP menjabarkan langkah teknis siapa melakukan apa dan kapan untuk menjalankan kebijakan tersebut.Employers with at least the minimum number of workers set by law must have company regulations approved by the manpower authority, unless they have a collective labour agreement.
Apakah kode etik perusahaan wajib dimiliki?Can a foreign parent company's code of conduct apply in Indonesia?
Tidak semua perusahaan diwajibkan secara khusus, tetapi kode etik sangat dianjurkan dan pada sektor tertentu menjadi bagian dari tata kelola yang diharapkan regulator.It can be used, but it should be adapted to Indonesian law and linked to lawful disciplinary procedures.
Apakah SOP sama dengan peraturan perusahaan?How long are company regulations valid?
Tidak. Peraturan perusahaan adalah dokumen ketenagakerjaan yang memuat syarat kerja dan tata tertib serta perlu disahkan instansi ketenagakerjaan, sedangkan SOP mengatur cara kerja teknis.Company regulations are valid for a limited period set by law and must be renewed before they expire.
Seberapa sering SOP perlu diperbarui?Do policies need to be in Indonesian?
Setidaknya ditinjau berkala, misalnya tahunan, dan setiap kali ada perubahan regulasi, sistem, atau struktur organisasi yang memengaruhi prosesnya.Policies that bind Indonesian employees should be available in Indonesian so staff can understand them.
